Minggu, 30 September 2012

Don't Touch Me, Please!



Title      : Don’t Touch Me, Please..!
Author   : Cho Hyunmi
Casts     : Park Eunhye as Park Eunhye
              Kim Heechul as Kim Heena
Genre    : Romance 17
Rating    : PG 17

Park Eunhye POV

Backsound [Super Junior K.R.Y~Let’s Not]

Sampai detik ini aku masih heran dengan penyakit yang kuderita, bahkan dokterpun mengatakan kalau penyakit yang ku alami ini adalah penyakit langka di dunia. Hanya 1  dari seratus juta orang yang menderita penyakit seperti ini di dunia. Penyakit yang juga menyebabkan Oemma meninggal.
Terkadang aku harus rela membiarkan waktuku terbuang sia-sia akibat  rasa sakit yang ditimbulkan penyakit ini, karena aku harus berbaring selama berhari-hari di atas tempat tidur. Sakit dikepala yang berlebihan, kadang juga membuatku pingsan. Belum lagi sakit di dada yang nyerinya teramat sangat menyiksa. Sakit di kaki, punggung, tangan, perut.. ah semua tubuhku memang sudah dikuasai oleh penyakit ini. Akupun, sebagai pemiliknya sudah tidak berhak menentukan nasib badanku sendiri. Aku juga tidak bisa melanjutkan sekolah gara-gara hal ini.
Terlebih lagi, sekarang aku hanya tinggal seorang diri di apartement karena aku tidak ingin Appa mengetahui penyakit gila ini. Penyakit yang terus menerus menggerogoti daya tahan tubuhku.
Aku tidak ingin membuatnya khawatir.
Aku menyandarkan tubuhku pada dinding kamar saat kurasakan nyeri yang sangat hebat mendera dadaku. Nafasku tersengal. Aku tidak bisa bernafas dengan bebas saat ini.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu diluar berulang kali, yang seakan  memaksaku untuk membukanya.
“ Nee, jamkanman.” Teriakku pelan
Dengan terhuyung-huyung aku berjalan menghampiri pintu. Dan akhirnya rasa nyeri di dadaku ini sukses membuat tubuhku roboh sesaat setelah membuka pintu.
“ Hey, Agasshi. Kau tidak apa-apa.?” Terdengar suara seorang Yeoja dari balik pintu, aku melirik saat dia masuk kedalam rumahku.
“ Gwaencanhayo. Aku tidak apa-apa.” Jawabku dan berusaha bangun.  Dia menjulurkan tangannya dan membantuku berdiri.
“ Gomawo. Tapi kau siapa.?” Tanyaku sambil menyilahkan dia duduk.
“ Oh, Nae Kim Heena imnida.” Jawabnya membungkukkan badan 90 derajat.
“ Aku disuruh dr. Hwang Taekyung untuk menjadi perawatmu selama kau sakit.” Lanjutnya diikuti sebuah senyuman manis dari bibir cantiknya.
Aku membelalakkan mata mendengar ucapan Yeoja cantik ini, dr. Hwang Taekyung memang dokter pribadiku dan juga satu-satunya orang yang tahu tentang penyakitku ini. Tapi aku tidak pernah memintanya mencarikan perawat untukku.
Ahh , sudahlah. Mungkin dokter hwang mengkhawatirkan kondisiku jadi dia mengirim salah satu perawatnya kesini.
“ Oh, Mian Hee-Oenni sudah merepotkan.” Ujarku mencoba menyembunyikan rasa sakit di dadaku yang semakin merajalela. Sakit sekali. Hingga akhirnya mataku terasa berat lalu aku tak dapat mengingat apa-apa lagi.
Begitu terbangun aku sudah mendapati tubuhku berada diatas tempat tidur dengan selimut menutupi seluruh tubuhku. Aku mengerjap-ngerjapkan mata saat melihat Heena Eonni masuk kedalam kamarku kemudian meletakkan semangkuk sup diatas meja. Dia cantik sekali dengan Blouse berwarna pink dan bawahan rok warna putih yang dia kenakan. Rambut ikalnya yang berwarna coklat itu di ikat seadanya. Sungguh cantik walaupun tanpa make-up, sehingga tanpa sadar aku tersenyum sendiri melihat kecantikan Yeoja jangkung itu.
“ Eun-sshi, kenapa tersenyum.” Tanyanya membuyarkan pikiranku yang sedang mengagumi kecantikannya lalu dia membantuku duduk.
“ Aniya, aku hanya kagum melihat kecantikan Hee-Eonni.” Jawabku jujur dan tentu saja jawabanku ini mebuat dia tersipu.
“ Ah, kau juga cantik Park Eunhye.” Dia mencubit pipiku dengan lembut.
“ Ne, kau bukan orang pertama yang mengatakan hal itu.” Aku menanggapi ucapannya dengan sebuah canda-an. Sehingga kami sama-sama tertawa.
“ Bagaimana keadaanmu? Apa sudah lebih baik?.” Dia menyodorkan semangkuk sup yang dibawanya tadi padaku.
“ Makanpun tidak akan bisa membuatku sembuh, jadi untuk apa aku makan.” Tanganku menepis sup yang disodorkannya.
“ Kau jangan berpikir seperti itu Eun-sshi. Kau pasti sembuh, percayalah padaku.”
“ Jangan membuatku tertawa dengan lelucon seperti itu Hee-Eonni.” Aku tersenyum pahit.
“ Ini bukan lelucon. Mau ku buktikan?” Heena Eonni menarik wajahku. Menatap mataku lekat-lekat dengan mata cokelatnya yang begitu bening. Aku menggeleng.
“ Aku tidak ingin pembuktian untuk hal menggelikan seperti ini.” Sahutku datar.
Dan.......Ommona, tiba-tiba saja dia mengunci bibirku dengan ciumannya.
Aku kaget dan berusaha melepaskan ciumannya, menjauhkan wajahnya dari wajahku.
“ Heena-sshi, apa yang kau lakukan.?” Bentakku dengan nada marah. Apa-apaan dia, apa dia pikir aku ini seorang namja, atau dia memang memiliki kelainan jiwa.
“ Aku tidak bermaksud apa-apa Eunhye-ya.” Jawabnya dengan nada bersalah. “ Mianhe.” Lanjutnya.
Aku mengangguk. “ Gwaencanha. Aku juga minta maaf karena sudah membentakmu.”
“ Ah, sudahlah. Mungkin kau tidak suka sup, aku akan menggantinya dengan makanan lain.” Aku diam saja saat dia membenarkan letak selimutku sebelum akhirnya pergi dari hadapanku.
Gawat.. kenapa ciuman tadi itu bisa membuatku bingung begini. Seharusnya aku tidak perlu memikirkan hal gila itu. Bukankah Heena Eonni juga sudah minta maaf. Aaisssh.... aku mengacak-acak rambutku sendiri dan membenamkan wajahku dalam selimut lalu kembali terlelap dalam mimpi indahku, kali ini aku bermimpi seorang namja dengan pakaian berwarna putih menghampiriku. Dia memanggil namaku berulang kali.
“ Park Eunhye-ya.. Park Eunhye...” suaranya terdengar begitu lembut memanjakan telingaku. Semakin lama suara itu semakin keras tapi samar-samar dan menghilang bersamaan dengan terbukanya mataku.
“ Park Eunhye-ya...” aku membelalakkan mata karena ternyata Heena Eonni telah duduk disampingku, dia memanggilku, panggilan yang dari tadi kudengar dalam mimpi itu apa mungkin suara Hee-Eonni. Ah, babo... tentu saja bukan. Suara Hee-Eonni lebih lembut daripada suara namja dalam mimpiku tadi.
“  Waeyo, melihatku kau seperti melihat setan.” Tanyanya heran melihat ekspessiku seperti ini.
Aku menggeleng. “ Gwaencanhayo. Hanya sedikit terkejut.”  Jawabku akhirnya.
“ Oh, syukurlah.” Tangan Hee-Eonni menyentuh keningku untuk beberapa saat.
 “ Sepertinya kau demam Eun-sshi.” Lanjutnya dengan nada khawatir.
“ Ah, ini sudah biasa Hee-Eonni. Suhu tubuhku selalu tinggi.” Kutepis tangan halus itu dari keningku, aku berusaha bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Perutku mual sekali, kepalaku juga seakan mau pecah saking sakitnya.
“ Hey, mau kubantu.?” Hee—Eonni menarik lenganku. Aku membiarkan saja saat dia merangkul tubuhku dan membantuku berjalan. Badanku terasa lemas, mungkin kalau Hee-Eonni tidak  merangkulku aku sudah jatuh ke lantai dari tadi.
“ Eun-sshi, kau tidak apa-apa?”.  Hee—Eonni membawaku ketempat tidur lagi. Aku yang merasa begitu kesakitan menjambak rambutku sendiri sambil menangis tersedu-sedu. Sebenarnya aku tidak ingin menangis dihadapan Hee—Eonni, tapi karena sakit ini semakin mendera kepalaku aku jadi tidak bisa menahan tangis.
“ Sakit Eonni.....huhuhu....huuuu...sakit..” jambakan di rambutku tidak bisa menandingi rasa sakit ini.
Hee—Eonni memelukku dan membenamkan wajahku di dadanya. Tangannya menepis tanganku yang menjambak-jambak rambutku sendiri.
“ Menangislah Eun-sshi.. kalau tangismu itu dapat mengurangi rasa sakitmu.”.
Sedikit demi sedikit rasa sakitku hilang saat Hee—Eonni terus memelukku. Aku tidak mengerti sepertinya ada energi yang mengalir kedalam tubuhku dari sentuhan-sentuhannya.
Aku berhenti menangis saat rasa sakit itu benar-benar hilang. Hee—Eonni melepas pelukannya, mengangkat wajahku yang penuh dengan air mata lalu mengusapnya.
Lagi, dia berusaha menciumku lagi... Ommono, apa yang harus aku lakukan? Ciuman Hee—Eonni benar-benar membuatku tidak bisa melakukan apa-apa, kecuali membalasnya. Ya, kali ini aku membalas ciuman gila Hee—Eonni , entah apa yang ada dalam pikiranku kali ini.

Park Eunhye POV End.

Kim Heechul a.k.a Kim Heena POV.

Aku kembali kekamarku setelah memastikan bahwa keadaan Eunhye semakin membaik, Dengan menahan rasa sakit yang teramat sangat dikepalaku.
Ya Tuhan, sesakit inikah rasa yang dialami Eunhye selama ini, bahkan aku sebagai seorang namjapun tidak dapat menahan rasa sakitnya. Apalagi Eunhye yang hanya seorang Yeoja. Pantas saja dia menangis tadi.
Maafkan aku Eunhye, kalau saja aku datang padamu lebih cepat. Pasti kau tidak akan semenderita sekarang. Aku menyesal tidak mengindahkan perintah Oemma yang menyuruhku menjalankan misi secepatnya.

Flashback

“Ya Heechul-sshi, cepatlah jalankan misimu.” Oemma menunjuk seorang Yeoja diseberang jalan. Yeoja manis dengan rambut ikal sepanjang bahunya.
“ Saat ini dia benar-benar membutuhkanmu.”
Aku menggeleng.” Belum saatnya Oemma, aku masih belum siap.” Jawabku berbohong kemudian ngeloyor meninggalkan Oemma. Pikiranku tertuju pada Yeoja tadi. Dia adalah jodoh yang ditakdirkan Tuhan untukku, sekaligus perantaraku untuk menjadi malaikat seutuhnya. Ya, aku adalah seseorang dari kaum dengan takdir setengah malaikat dan setengah manusia. Istilahnya malaikat tanpa sayap. Oemma dan Appaku sendiri sudah menjadi malaikat seutuhya. Untuk menjadi  seorang malaikat seutuhnya, aku harus mengabdikan diri untuk jodoh yang telah ditentukan. Bukan untuk menikahinya, tapi memberikan hidup untuknya. Jika aku berhasil memberikan hidupku untuknya atau lebih tepatnya mati untuknya, aku akan bertransformasi menjadi malaikat bersayap. Dan tidak akan pernah bisa bertemu dia lagi.
Aku membenci semua hal ini, aku tidak ingin menjadi malaikat kalau harus mengalami hal seperti ini. Meskipun menjadi malaikat seutuhnya adalah impian setiap anggota kaum kami.
Itulah sebabnya aku tidak ingin cepat-cepat menjalankan misiku. Aku ingin memandang jodohku lebih lama lagi, meskipun hanya dari jauh.
Tapi kalau begini terus, aku menjadi orang terjahat sedunia karena membiarkan orang yang membutuhkanku menungguku terlalu lama. Dia sakit parah, dan yang hanya bisa menyembuhkannya hanya aku. Dengan memberikan sedikit demi sedikit nyawa manusia milikku. Lewat sentuhan aku akan mengambil penyakitnya dan menggantinya dengan nyawa manusiaku.
Tapi, ada satu hal lagi yang membuatku takut menjalankan misi ini. Aku takut dia akan jatuh cinta padaku, karena itu hanya akan menyakiti hatinya saja. Sebab sewaktu-waktu aku akan pergi meninggalkannya.
Aku memutar otak untuk memecahkan masalah ini, hingga akhirnya aku memutuskan untuk menyamar menjadi seorang Yeoja saja saat menjalankan misi ini.

Flashback End

Air mataku menetes saat membayangkan apa yang akan terjadi nanti, saat aku harus meninggalkan Park Eunhye. Aku tidak sanggup melupakannya, sekalipun aku sudah menjadi malaikat dan akan mendapat Yeoja baru di sana.
“ Saranghae Park Eunhye.” Bisikku lemah sebelum akhirnya terlelap.
Aku benar-benar terkejut saat membuka mataku, hari sudah siang. Aiishh... aku tertidur terlalu lama rupanya.
Aku bergegas menuju dapur untuk menyiapkan sarapannya Eunhye. Langkahku terhenti seketika saat mataku menangkap sesosok bayangan di dapur.
“ Eun-ya....” panggilku pada Eunhye yang sedang memasak sesuatu, entah apa yang dimasaknya.
Dia terkejut mendengar panggilanku yang tiba-tiba hingga dia menjatuhkan piring yang dibawanya.
PRAAANGGG....
Kontan saja dia langsung berjongkok dan memunguti serpihan piring yang telah hancur berantakan.
Aku berjongkok untuk membantunya.
“ Mianhe, sudah membuatmu kaget.” Ujarku tulus.
Dia mengarahkan pandangannya padaku sebentar, lalu kembali memunguti serpihan piring.
“ Gwaencanha Hee—Eonni.”
Dan selanjutnya sudah bisa ditebak, seperti cerita romantis pada umumnya. Tangan Eunhye tergores pecahan piring.
“ Aissh...” pekiknya pelan. Didekapnya jari yang berlumuran darah itu dengan ujung bajunya.
Aku terkekeh melihat tingkahnya yang seperti gadis kecil itu. Tapi itu tidak berlangsung lama karena detik selanjutnya aku meraih jari berdarah itu dan menghisap lukanya.
Kulihat Eunhye membelalakkan matanya mendapat perlakuan seperti ini dariku tanpa ada niat untuk menghentikannya.
“ Gomawo, Eonni-ya.” Ucapnya saat dia telah mendapatkan kembali tangannya dari mulutku.
“ Cheon. Apa sudah tidak sakit.”
“ Aniya.” Aku terkesiap saat jari mungilnya mengusap lembut bibirku.
 “ Ada sedikit darah.” Lanjutnya dengan sesungging senyuman kecil.
Aku menarik tengkuknya hingga wajahnya begitu dekat dengan wajahku. Lalu kembali mengecup bibirnya seperti kemarin, biarlah aku siap mendapat tamparan atau pukulan sekalipun dari Eunhye karena kembali mencium paksa dirinya. Ternyata aku salah, dia tidak bereaksi apa-apa. Bahkan sedetik kemudian dia membalas ciumanku dengan lembut. Biarlah, ini jauh lebih baik karena energiku dapat mengalir dengan sempurna kalau dia sedang tidak marah.
Kemudian, ciuman-ciumanku berikutnya juga tidak ditolak olehnya. Ciuman yang akan membuatnya sembuh dan juga akan membuatku mati sebagai seorang manusia.
Seminggu setelah kejadian di dapur waktu itu, aku merasa bahwa nyawaku sudah hampir habis. Ini pertanda kalau penyakit Eunhye juga hampir sembuh.
Aku merebahkan tubuh diatas tempat tidur sambil menikmati rasa sakit diseluruh tubuhku. Sakit yang dulu menyiksa Eunhye itu, kini bersarang di tubuhku. Aku tersenyum bahagia karena sudah bisa membuat hidup Eunhye tidak akan menderita lagi oleh penyakit ini.

Kim Heechul a.k.a Kim Heena POV End

Park Eunhye POV.

Hari ini lagi-lagi Heena Eonni berhasil mengacaukan pikiranku. Terutama tentang ciuman darinya yang sering membuatku bingung. Entah sudah yang keberapa kalinya aku membiarkan dia mengecup bibirku tanpa perlawanan dariku, bahkan aku membalasnya. Apa aku sudah gila? Karena sepertinya aku mulai menyukai Yeoja itu. Tatapan matanya, ciumannya, perhatiannya, semua tentang dirinya membuatku hampir gila. Disisi lain aku sadar ini hal yang sangat salah, aku menyalahi kodratku sebagai seorang Yeoja. Harusnya aku mencintai namja, bukan Yeoja seperti Heena Eonni itu. Aku sudah berusaha semampuku untuk membuang perasaan aneh ini, tapi tidak bisa. Semakin besar malah. Sentuhan-sentuhan darinya tak hanya mengalirkan suatu energi kedalam tubuhku, tapi juga mengalirkan bias-bias cinta kedalam hatiku. Aku tahu ini berlebihan, namun kenyataanya memang seperti itu yang aku rasakan setiap kali dia menyentuhku.
Dan pagi ini, setelah melalui pemikiran yang sangat-sangat rumit, aku memutuskan untuk mengatakan apa yang aku rasakan selama ini pada Heena Eonni.
Iya, aku akan menyatakan cintaku padanya. Tak peduli bagaimanapun reaksinya. Entah dia akan jijik padaku, benci, marah atau apalah reaksi yang akan kudapat darinya, yang jelas aku harus mengatakannya sebelum penyakit ini menyeretku pada pintu kematian yang semakin dekat denganku.
Aku mencari-cari Heena Eonni di seluruh sudut apartemenku karena sejak semalam aku tidak melihatnya. Pasti dia dikamarnya, gumamku lalu bergegas menuju sebuah kamar di ujung ruangan.
“ Hee—Eonni .... Hee—Eonni-ya.....” panggilku dari balik pintu.

Park Eunhye POV End

Kim Heechul a.k.a Kim Heena POV.

Aku membuka mataku saat mendengar teriakan dari luar kamarku.
“ Hee—Eonni.... Hee-Eonni-ya.”
Itu suara Eunhye, kenapa dia memanggilku. Ya Tuhan, mungkin dia sedang butuh bantuanku, karena sejak semalam aku tidak keluar kamar akibat rasa sakit di sekujur tubuhku ini.
“ Ne Eunhye, masuklah.. Pintunya tidak terkunci.” Aku berusaha memperjelas suaraku yang agak parau.
“ Eonni sakit ya?” Eunhye duduk disebelahku yang sedang terbaring lemah. Aku tidak tahu sejauh apa penyakit ini menguasai tubuhku, sehingga aku sering merasa kesakitan.
Aku menggeleng mendengar pertanyaan Eunhye.
“ Ani Eunhye-ya.. aku hanya sedikit pusing.” Jawabku yang tentu saja bohong, karena yang kurasakan saat ini bukan hanya ‘sedikit’ tapi ‘sangat’ pusing.
“ Tapi Hee—Eonni pucat, apa perlu ku ambilkan obat?”. Tanyanya dengan nada khawatir dan buru-buru berdiri untuk mengambil obat kalau saja aku tidak menarik tangannya.
“ Tidak perlu Eun-sshi, aku baik-baik saja.” Aku bangkit dari posisi berbaringku. Duduk dengan mantap seakan-akan memberi isyarat pada Eunhye bahwa aku baik-baik saja.
“ Ah, Jinjja? Kau jangan berbohong Eonni.” Tatapan matanya penuh selidik memandang seluruh tubuhku.
Aku menjadi rikuh ditatap seperti ini.” Jangan menatapku seperti ini  Eun-sshi.”  Kudorong pipinya dengan lembut.
“ Waeyo? Kau tidak suka?” ucapnya dengan nada kecewa.
“ Bukan begitu, tapi... ah sudahlah jangan dipikirkan. Oh iya, kenapa kau datang kesini? Kau butuh sesuatu?”
Tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan.
Eunhye menggeleng. “ Ani, tapi ada sesuatu yang ingin aku katakan pada Eonni.” Wajahnya sedikit serius. Manik matanya memandang mataku dengan tajam.
“ Mwo?” aku menghindar dari tatapan matanya dengan memandang keluar jendela disebelah tempat tidurku.
Eunhye menaikkan kedua kakinya keatas tempat tidurku lalu memeluk lututnya.
“ Aku tidak tahu apa aku pantas mengatakan ini atau tidak.” Eunhye terdiam sejenak sambil terus memandangku.
Aku membulatkan mataku, apa yang sebenarnya ingin dikatakan gadis manis ini. Kenapa dia seperti takut mengutarakan maksudnya. Kalau saja aku bisa membaca pikirannya seperti yang biasa aku lakukan pada orang-orang lainnya, aku pasti sudah melakukannya dari tadi. Tapi sayang sekali, kekuatanku untuk membaca pikiran orang lain tidak berfungsi pada jodohku sendiri. Memang, aku bisa mengetahui segala hal tentang kehidupannya, tapi pikirannya tidak bisa ku ketahui.
“ Aku menyukaimu Hee—Eonni.” Ucapnya tiba-tiba dan membuat jantungku seakan berhenti berdetak saat ini juga. Aku menoleh untuk memastikan apa dia tidak salah bicara.
“ Aku tahu ini hal yang memalukan. Tapi aku ingin perasaanku bisa tersampaikan sebelum aku mati.” Lanjutnya dengan senyuman pahit menghiasi bibir mungilnya itu.
Aku menutup mata rapat-rapat mendengar gadis yang kucintai mengatakan hal itu padaku, meskipun aku dalam penampilan seperti ini( Yeoja ).
Padahal aku sudah bersusah payah menutupi jati diriku yang sebenarnya agar Eunhye tidak sampai menyukaiku. Suatu kekuatan menuntun tanganku bergerak untuk memeluk Eunhye.
“ Ani Eun-sshi. Kau tidak salah, ini juga bukan hal yang memalukan.” Ujarku menenangkan Eunhye yang mulai menangis dipelukanku.
Apa boleh buat, menyamar menjadi Yeoja sekalipun tidak dapat menipu hati Eunhye untuk tidak mencintaiku. Dia tetap menyukaiku. Akhirnya aku membuka Wig yang selama ini aku pakai. Membiarkan rambut hitamku yang sesungguhnya terlihat oleh Eunhye.
“ Tatap aku Eunhye-ya” Ucapku dengan suaraku yang sesungguhnya. Tanganku mendongakkan wajah Eunhye yang sejak tadi berada dalam dekapanku.
Eunhye tampak begitu terkejut dengan apa yang terjadi. Dia memandang wajahku lekat-lekat.
“ kau siapa..” dia melepaskan diri dari pelukanku.
Aku tersenyum lebar. “Naya, Kim Heena.... umm maksudku Kim Heechul” jawabku lembut.
Aku menjelaskan semua tentang diriku yang sesungguhnya pada Eunhye, tentang misi yang sedang ku lakukan, juga tentang alasanku berubah menjadi Kim Heena. Bahkan tentang nyawa yang kuberikan padanya lewat sentuhan dan ciuman selama ini juga aku ceritakan. Yang tentu saja hal ini membuat Eunhye menangis menjadi jadi.
“ Just love you my dear, Saranghae Chagiya....” kubisikkan kalimat itu dengan lembut ditelinganya. Aku memejamkan mata berusaha menghalau airmata yang hendak keluar dari dalamnya. Aku tidak menduga kalau semuanya akan berakhir seperti ini. Seharusnya saat ini Eunhye sedang bahagia karena penyakitnya sudah hampir lenyap. Tanpa perlu menangisi semua takdir ini.
Aku meraih tubuhnya kedalam pelukanku. Tapi dia mengibaskan tanganku.
“ Tolong, jangan sentuh aku lagi. Aku tidak ingin kau semakin menderita.” Ucapnya ditengah sedu sedan tangisnya.
“ Ya Eunhye-ya, jangan mengatakan hal itu. Aku tidak pernah menderita karena semua hal itu.” Dia tetap menggeleng dan menjauh dariku.
“ Kau bohong. Jangan pernah menyentuhku lagi, ku mohon. Aku tidak ingin kehilanganmu.” Dia terduduk dilantai dan menangis disudut ruangan, kedua tangannya memeluk lututnya sementara wajahnya dibenamkan dalam rengkuhan lututnya.
Aku tidak sanggup melihat semua ini, segera saja aku melompat dari tempat tidur dan menghampirinya. Memeluknya walaupun dia berusaha menolak dengan segenap tenaganya. Hingga akhirnya dia menyerah dan membiarkan aku memeluk tubuhnya.
“ Kumohon, biarkan aku memelukmu.” Kurasakan air mataku meleleh dari sudut mata ini. Untuk beberapa saat lamanya kami berdua larut dalam tangisan masing-masing.
“ Saranghae....” kukecup kening Eunhye dengan perasaan campur aduk. Eunhye hanya terdiam sambil terisak, dia tak menatapku sedikitpun.
“ Eunhye-ya... mian kalau aku su...” Ucapanku terhenti karena Eunhye menempelkan telunjuknya dibibirku.
“ Tidak ada yang perlu dimaafkan.” Ucapnya kemudian menempelkan keningnya di keningku. “ Saranghae, Chagiya...” lanjutnya dengan tatapan mata tajam.
Aku mengangguk. “ Na ddo saranghae, Eunhye-sshi.”
Kukecup bibir mungil Eunhye dengan lembut, entah untuk yang keberapa kalinya, tapi yang jelas kali ini adalah ciuman terakhirku. Karena seluruh nyawa manusiaku sudah kuberikan pada Yeoja tersayangku ini dan bisa dipastikan, sebentar lagi aku akan lenyap dari dunia manusia dan menjadi malaikat seutuhnya.

Kim Heechul a.k.a Kim Heena POV End

Park Eunhye POV

BackSound [Superjunior-Daydream]

Aku membiarkan Heechul mengunci bibirku dengan ciumannya.
Memeluk tubuhku dengan sangat erat. Kurasakan bahunya berguncang keras, pasti dia sedang menangis. Tapi dia tidak melepas ciumannya.
Bahkan semakin memperdalam ciumannya.
Dia melepas ciumannya sebentar untuk memberiku kesempatan bernafas. Beberapa detik kemudian dia kembali menciumku dengan terisak, aku yang masih sangat shock dengan fakta yang baru saja terungkap hanya bisa diam tanpa melawan ataupun membalas ciumannya itu. Tapi itu tak berlangsung lama, karena selanjutnya aku membalas ciuman manis Heechul dengan perasaan yang kacau. Aku tidak ingin dia meninggalkanku begitu saja, aku sangat mencintainya. Sangaat.....
Aku mempererat pelukanku, berharap agar Tubuh Heechul tidak akan pernah lenyap dan pergi dari sisiku. Namun ternyata aku salah, seberapapun kuatnya aku memeluk dia. Dia tetap menghilang , lenyap dari pandanganku. Seiring dengan tetesan air mataku dan air matanya yang terus mengalir, tubuh namja itu sedikit demi sedikit berubah menjadi seberkas cahaya yang menyilaukan sebelum akhirnya hilang dari ruang pandangku. Sektika aku menangis hebat, memanggil namanya berulang-ulang. Seakan berharap tubuh itu akan muncul lagi oleh tangisan dan panggilan dariku.
“ Heechul-Sshi...” teriakku sambil terisak. Tidak Eunhye..dia tidak akan pernah kembali lagi. Ucapku dalam hati menenangkan diriku sendiri. Dan itu memang benar, Chullie tidak muncul. Saat ini yang tersisa hanya aku, berkutat dengan kesedihan di dalam ruangan yang teramat sepi ini. Sesekali isak tangisku memecah keheningan tempat ini tanpa bisa mengembalikan Namja-ku ke hadapanku lagi.
Entah sudah berapa lama aku menangis, hingga aku merasa begitu lelah, lelah sekali... aku menutup mataku yang terasa begitu berat dan tertidur di lantai.
Baru sebentar aku tertidur, kurasakan hangat cahaya matahari pagi yang menerobos masuk lewat jendela menyapa kulitku. Aku mengerjap-ngerjapkan mata,berusaha mengumpulkan segenap kesadaranku yang baru terkumpul setengah. Aku memandang sekelilingku, ruangan ini masih sama seperti saat aku belum tertidur. Sepi, lengang, bahkan terasa lebih senyap dari sebelumnya. Aku juga masih terkulai lemas di tempat terakhirku bersama dengan Heechul, juga masih dengan kesedihan yang teramat sangat ini.
Air mata, air mata yang sempat terhenti saat aku tertidur tadi kembali bergegas mengalir dipipiku.  Ya, aku menangis lagi. Menangisi segala kebodohanku sekaligus kebodohan Heechul yang sudah menyebabkan semua ini terjadi.
Aku melangkah menghampiri tempat tidur Heechul, mengambil selimut yang pernah dipakainya lalu menghirupnya, menghirup aroma tubuh Heechul yang masih menempel disana. Kembali kepedihan menyesakkan dadaku hingga aku seperti tak dapat menghirup udara dengan bebas.
“ Heechul-sshi.... Apa kau masih mengingatku saat ini.?” Tanyaku seperti orang bodoh. Tidak mungkin dia mendengar ucapanku sekarang.
“ Masih Eunhye... Aku masih mengingatmu.” Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang mengagetkanku.
“ heechul-sshi...? aku menoleh kearah datangnya suara itu, dan benar saja Heechul sudah berdiri dibelakangku. “Ya.. Tuhan, apa aku sudah mulai gila sekarang.” Kupukul kepalaku berulang kali, berharap halusinasiku akan segera hilang.
“ Hilang... Ayo cepat hilang..” aku masih memukuli kepalaku sambil mengerjapkan mata berulang-ulang.
“ Apa yang kau lakukan Eunhye-ya.?” Heechul menarik tanganku agar tidak memukuli kepalaku sendiri. “Ini... . Ini bukan halusinasi?” tanyaku bingung karena aku dapat merasakan sentuhan dari Heechul.
“ Ani, ini bukan halusinasi. Aku benar-benar ada Chagiya..” dia memeluk tubuhku dengan erat.
“ Heechul-ya..” panggilku setelah menyadari bahwa namja yang memelukku ini nyata. “ Kau bilang kau akan menjadi malaikat dan tidak akan pernah datang padaku lagi.” Aku memukul tubuh Heechul dengan manja.
“ Ne, itu benar. Tapi ternyata, aku diberi kesempatan untuk memilih. Antara menjadi malaikat seutuhnya atau menjadi manusia seutuhnya.” Jawabnya dengan nada gembira.
“ Jadi, kau tidak akan pernah lagi meninggalkanku.?” Tanyaku memastikan hal yang sudah pasti.
“ Tidak akan pernah lagi.” Heechul mempererat dekapannya dan mencium lembut keningku.

©©©©©~~~ END~~~©©©©©

Tidak ada komentar:

Posting Komentar