Title : Don’t Touch Me,
Please..!
Author : Cho Hyunmi
Casts : Park Eunhye as Park
Eunhye
Kim Heechul as Kim Heena
Genre : Romance 17
Rating : PG 17
Park Eunhye POV
Backsound [Super Junior K.R.Y~Let’s Not]
Sampai detik
ini aku masih heran dengan penyakit yang kuderita, bahkan dokterpun mengatakan
kalau penyakit yang ku alami ini adalah penyakit langka di dunia. Hanya 1 dari seratus juta orang yang menderita
penyakit seperti ini di dunia. Penyakit yang juga menyebabkan Oemma meninggal.
Terkadang aku
harus rela membiarkan waktuku terbuang sia-sia akibat rasa sakit yang ditimbulkan penyakit ini,
karena aku harus berbaring selama berhari-hari di atas tempat tidur. Sakit
dikepala yang berlebihan, kadang juga membuatku pingsan. Belum lagi sakit di
dada yang nyerinya teramat sangat menyiksa. Sakit di kaki, punggung, tangan,
perut.. ah semua tubuhku memang sudah dikuasai oleh penyakit ini. Akupun,
sebagai pemiliknya sudah tidak berhak menentukan nasib badanku sendiri. Aku
juga tidak bisa melanjutkan sekolah gara-gara hal ini.
Terlebih lagi,
sekarang aku hanya tinggal seorang diri di apartement karena aku tidak ingin
Appa mengetahui penyakit gila ini. Penyakit yang terus menerus menggerogoti
daya tahan tubuhku.
Aku tidak
ingin membuatnya khawatir.
Aku
menyandarkan tubuhku pada dinding kamar saat kurasakan nyeri yang sangat hebat
mendera dadaku. Nafasku tersengal. Aku tidak bisa bernafas dengan bebas saat
ini.
Tiba-tiba
terdengar ketukan pintu diluar berulang kali, yang seakan memaksaku untuk membukanya.
“ Nee,
jamkanman.” Teriakku pelan
Dengan
terhuyung-huyung aku berjalan menghampiri pintu. Dan akhirnya rasa nyeri di
dadaku ini sukses membuat tubuhku roboh sesaat setelah membuka pintu.
“ Hey,
Agasshi. Kau tidak apa-apa.?” Terdengar suara seorang Yeoja dari balik pintu,
aku melirik saat dia masuk kedalam rumahku.
“
Gwaencanhayo. Aku tidak apa-apa.” Jawabku dan berusaha bangun. Dia menjulurkan tangannya dan membantuku
berdiri.
“ Gomawo. Tapi
kau siapa.?” Tanyaku sambil menyilahkan dia duduk.
“ Oh, Nae Kim
Heena imnida.” Jawabnya membungkukkan badan 90 derajat.
“ Aku disuruh
dr. Hwang Taekyung untuk menjadi perawatmu selama kau sakit.” Lanjutnya diikuti
sebuah senyuman manis dari bibir cantiknya.
Aku
membelalakkan mata mendengar ucapan Yeoja cantik ini, dr. Hwang Taekyung memang
dokter pribadiku dan juga satu-satunya orang yang tahu tentang penyakitku ini.
Tapi aku tidak pernah memintanya mencarikan perawat untukku.
Ahh ,
sudahlah. Mungkin dokter hwang mengkhawatirkan kondisiku jadi dia mengirim
salah satu perawatnya kesini.
“ Oh, Mian
Hee-Oenni sudah merepotkan.” Ujarku mencoba menyembunyikan rasa sakit di dadaku
yang semakin merajalela. Sakit sekali. Hingga akhirnya mataku terasa berat lalu
aku tak dapat mengingat apa-apa lagi.
Begitu
terbangun aku sudah mendapati tubuhku berada diatas tempat tidur dengan selimut
menutupi seluruh tubuhku. Aku mengerjap-ngerjapkan mata saat melihat Heena Eonni
masuk kedalam kamarku kemudian meletakkan semangkuk sup diatas meja. Dia cantik
sekali dengan Blouse berwarna pink dan bawahan rok warna putih yang dia
kenakan. Rambut ikalnya yang berwarna coklat itu di ikat seadanya. Sungguh
cantik walaupun tanpa make-up, sehingga tanpa sadar aku tersenyum sendiri melihat
kecantikan Yeoja jangkung itu.
“ Eun-sshi,
kenapa tersenyum.” Tanyanya membuyarkan pikiranku yang sedang mengagumi
kecantikannya lalu dia membantuku duduk.
“ Aniya, aku
hanya kagum melihat kecantikan Hee-Eonni.” Jawabku jujur dan tentu saja
jawabanku ini mebuat dia tersipu.
“ Ah, kau juga
cantik Park Eunhye.” Dia mencubit pipiku dengan lembut.
“ Ne, kau
bukan orang pertama yang mengatakan hal itu.” Aku menanggapi ucapannya dengan
sebuah canda-an. Sehingga kami sama-sama tertawa.
“ Bagaimana
keadaanmu? Apa sudah lebih baik?.” Dia menyodorkan semangkuk sup yang dibawanya
tadi padaku.
“ Makanpun
tidak akan bisa membuatku sembuh, jadi untuk apa aku makan.” Tanganku menepis
sup yang disodorkannya.
“ Kau jangan
berpikir seperti itu Eun-sshi. Kau pasti sembuh, percayalah padaku.”
“ Jangan
membuatku tertawa dengan lelucon seperti itu Hee-Eonni.” Aku tersenyum pahit.
“ Ini bukan
lelucon. Mau ku buktikan?” Heena Eonni menarik wajahku. Menatap mataku
lekat-lekat dengan mata cokelatnya yang begitu bening. Aku menggeleng.
“ Aku tidak
ingin pembuktian untuk hal menggelikan seperti ini.” Sahutku datar.
Dan.......Ommona,
tiba-tiba saja dia mengunci bibirku dengan ciumannya.
Aku kaget dan
berusaha melepaskan ciumannya, menjauhkan wajahnya dari wajahku.
“ Heena-sshi,
apa yang kau lakukan.?” Bentakku dengan nada marah. Apa-apaan dia, apa dia
pikir aku ini seorang namja, atau dia memang memiliki kelainan jiwa.
“ Aku tidak
bermaksud apa-apa Eunhye-ya.” Jawabnya dengan nada bersalah. “ Mianhe.”
Lanjutnya.
Aku
mengangguk. “ Gwaencanha. Aku juga minta maaf karena sudah membentakmu.”
“ Ah,
sudahlah. Mungkin kau tidak suka sup, aku akan menggantinya dengan makanan
lain.” Aku diam saja saat dia membenarkan letak selimutku sebelum akhirnya
pergi dari hadapanku.
Gawat.. kenapa
ciuman tadi itu bisa membuatku bingung begini. Seharusnya aku tidak perlu
memikirkan hal gila itu. Bukankah Heena Eonni juga sudah minta maaf.
Aaisssh.... aku mengacak-acak rambutku sendiri dan membenamkan wajahku dalam
selimut lalu kembali terlelap dalam mimpi indahku, kali ini aku bermimpi
seorang namja dengan pakaian berwarna putih menghampiriku. Dia memanggil namaku
berulang kali.
“ Park Eunhye-ya.. Park Eunhye...” suaranya terdengar begitu lembut memanjakan telingaku. Semakin lama suara itu semakin keras tapi samar-samar dan menghilang bersamaan dengan terbukanya mataku.
“ Park Eunhye-ya...” aku membelalakkan mata karena ternyata Heena Eonni telah duduk disampingku, dia memanggilku, panggilan yang dari tadi kudengar dalam mimpi itu apa mungkin suara Hee-Eonni. Ah, babo... tentu saja bukan. Suara Hee-Eonni lebih lembut daripada suara namja dalam mimpiku tadi.
“ Park Eunhye-ya.. Park Eunhye...” suaranya terdengar begitu lembut memanjakan telingaku. Semakin lama suara itu semakin keras tapi samar-samar dan menghilang bersamaan dengan terbukanya mataku.
“ Park Eunhye-ya...” aku membelalakkan mata karena ternyata Heena Eonni telah duduk disampingku, dia memanggilku, panggilan yang dari tadi kudengar dalam mimpi itu apa mungkin suara Hee-Eonni. Ah, babo... tentu saja bukan. Suara Hee-Eonni lebih lembut daripada suara namja dalam mimpiku tadi.
“ Waeyo, melihatku kau seperti melihat setan.”
Tanyanya heran melihat ekspessiku seperti ini.
Aku
menggeleng. “ Gwaencanhayo. Hanya sedikit terkejut.” Jawabku akhirnya.
“ Oh,
syukurlah.” Tangan Hee-Eonni menyentuh keningku untuk beberapa saat.
“ Sepertinya kau demam Eun-sshi.” Lanjutnya
dengan nada khawatir.
“ Ah, ini
sudah biasa Hee-Eonni. Suhu tubuhku selalu tinggi.” Kutepis tangan halus itu
dari keningku, aku berusaha bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Perutku mual
sekali, kepalaku juga seakan mau pecah saking sakitnya.
“ Hey, mau
kubantu.?” Hee—Eonni menarik lenganku. Aku membiarkan saja saat dia merangkul
tubuhku dan membantuku berjalan. Badanku terasa lemas, mungkin kalau Hee-Eonni
tidak merangkulku aku sudah jatuh ke
lantai dari tadi.
“ Eun-sshi,
kau tidak apa-apa?”. Hee—Eonni membawaku
ketempat tidur lagi. Aku yang merasa begitu kesakitan menjambak rambutku
sendiri sambil menangis tersedu-sedu. Sebenarnya aku tidak ingin menangis
dihadapan Hee—Eonni, tapi karena sakit ini semakin mendera kepalaku aku jadi
tidak bisa menahan tangis.
“ Sakit
Eonni.....huhuhu....huuuu...sakit..” jambakan di rambutku tidak bisa menandingi
rasa sakit ini.
Hee—Eonni
memelukku dan membenamkan wajahku di dadanya. Tangannya menepis tanganku yang
menjambak-jambak rambutku sendiri.
“ Menangislah
Eun-sshi.. kalau tangismu itu dapat mengurangi rasa sakitmu.”.
Sedikit demi
sedikit rasa sakitku hilang saat Hee—Eonni terus memelukku. Aku tidak mengerti
sepertinya ada energi yang mengalir kedalam tubuhku dari sentuhan-sentuhannya.
Aku berhenti
menangis saat rasa sakit itu benar-benar hilang. Hee—Eonni melepas pelukannya,
mengangkat wajahku yang penuh dengan air mata lalu mengusapnya.
Lagi, dia
berusaha menciumku lagi... Ommono, apa yang harus aku lakukan? Ciuman Hee—Eonni
benar-benar membuatku tidak bisa melakukan apa-apa, kecuali membalasnya. Ya,
kali ini aku membalas ciuman gila Hee—Eonni , entah apa yang ada dalam pikiranku
kali ini.
Park Eunhye POV End.
Kim Heechul a.k.a Kim Heena POV.
Aku kembali
kekamarku setelah memastikan bahwa keadaan Eunhye semakin membaik, Dengan
menahan rasa sakit yang teramat sangat dikepalaku.
Ya Tuhan,
sesakit inikah rasa yang dialami Eunhye selama ini, bahkan aku sebagai seorang
namjapun tidak dapat menahan rasa sakitnya. Apalagi Eunhye yang hanya seorang Yeoja.
Pantas saja dia menangis tadi.
Maafkan aku
Eunhye, kalau saja aku datang padamu lebih cepat. Pasti kau tidak akan
semenderita sekarang. Aku menyesal tidak mengindahkan perintah Oemma yang
menyuruhku menjalankan misi secepatnya.
Flashback
“Ya
Heechul-sshi, cepatlah jalankan misimu.” Oemma menunjuk seorang Yeoja
diseberang jalan. Yeoja manis dengan rambut ikal sepanjang bahunya.
“ Saat ini dia
benar-benar membutuhkanmu.”
Aku
menggeleng.” Belum saatnya Oemma, aku masih belum siap.” Jawabku berbohong
kemudian ngeloyor meninggalkan Oemma. Pikiranku tertuju pada Yeoja tadi. Dia
adalah jodoh yang ditakdirkan Tuhan untukku, sekaligus perantaraku untuk
menjadi malaikat seutuhnya. Ya, aku adalah seseorang dari kaum dengan takdir
setengah malaikat dan setengah manusia. Istilahnya malaikat tanpa sayap. Oemma
dan Appaku sendiri sudah menjadi malaikat seutuhya. Untuk menjadi seorang malaikat seutuhnya, aku harus
mengabdikan diri untuk jodoh yang telah ditentukan. Bukan untuk menikahinya,
tapi memberikan hidup untuknya. Jika aku berhasil memberikan hidupku untuknya
atau lebih tepatnya mati untuknya, aku akan bertransformasi menjadi malaikat
bersayap. Dan tidak akan pernah bisa bertemu dia lagi.
Aku membenci semua
hal ini, aku tidak ingin menjadi malaikat kalau harus mengalami hal seperti
ini. Meskipun menjadi malaikat seutuhnya adalah impian setiap anggota kaum
kami.
Itulah
sebabnya aku tidak ingin cepat-cepat menjalankan misiku. Aku ingin memandang
jodohku lebih lama lagi, meskipun hanya dari jauh.
Tapi kalau
begini terus, aku menjadi orang terjahat sedunia karena membiarkan orang yang
membutuhkanku menungguku terlalu lama. Dia sakit parah, dan yang hanya bisa
menyembuhkannya hanya aku. Dengan memberikan sedikit demi sedikit nyawa manusia
milikku. Lewat sentuhan aku akan mengambil penyakitnya dan menggantinya dengan
nyawa manusiaku.
Tapi, ada satu
hal lagi yang membuatku takut menjalankan misi ini. Aku takut dia akan jatuh
cinta padaku, karena itu hanya akan menyakiti hatinya saja. Sebab sewaktu-waktu
aku akan pergi meninggalkannya.
Aku memutar
otak untuk memecahkan masalah ini, hingga akhirnya aku memutuskan untuk
menyamar menjadi seorang Yeoja saja saat menjalankan misi ini.
Flashback End
Air mataku
menetes saat membayangkan apa yang akan terjadi nanti, saat aku harus
meninggalkan Park Eunhye. Aku tidak sanggup melupakannya, sekalipun aku sudah
menjadi malaikat dan akan mendapat Yeoja baru di sana.
“ Saranghae
Park Eunhye.” Bisikku lemah sebelum akhirnya terlelap.
Aku
benar-benar terkejut saat membuka mataku, hari sudah siang. Aiishh... aku
tertidur terlalu lama rupanya.
Aku bergegas
menuju dapur untuk menyiapkan sarapannya Eunhye. Langkahku terhenti seketika
saat mataku menangkap sesosok bayangan di dapur.
“ Eun-ya....”
panggilku pada Eunhye yang sedang memasak sesuatu, entah apa yang dimasaknya.
Dia terkejut
mendengar panggilanku yang tiba-tiba hingga dia menjatuhkan piring yang
dibawanya.
PRAAANGGG....
Kontan saja
dia langsung berjongkok dan memunguti serpihan piring yang telah hancur
berantakan.
Aku berjongkok
untuk membantunya.
“ Mianhe,
sudah membuatmu kaget.” Ujarku tulus.
Dia
mengarahkan pandangannya padaku sebentar, lalu kembali memunguti serpihan
piring.
“ Gwaencanha
Hee—Eonni.”
Dan
selanjutnya sudah bisa ditebak, seperti cerita romantis pada umumnya. Tangan
Eunhye tergores pecahan piring.
“ Aissh...”
pekiknya pelan. Didekapnya jari yang berlumuran darah itu dengan ujung bajunya.
Aku terkekeh
melihat tingkahnya yang seperti gadis kecil itu. Tapi itu tidak berlangsung
lama karena detik selanjutnya aku meraih jari berdarah itu dan menghisap
lukanya.
Kulihat Eunhye
membelalakkan matanya mendapat perlakuan seperti ini dariku tanpa ada niat
untuk menghentikannya.
“ Gomawo,
Eonni-ya.” Ucapnya saat dia telah mendapatkan kembali tangannya dari mulutku.
“ Cheon. Apa
sudah tidak sakit.”
“ Aniya.” Aku
terkesiap saat jari mungilnya mengusap lembut bibirku.
“ Ada sedikit darah.” Lanjutnya dengan
sesungging senyuman kecil.
Aku menarik
tengkuknya hingga wajahnya begitu dekat dengan wajahku. Lalu kembali mengecup
bibirnya seperti kemarin, biarlah aku siap mendapat tamparan atau pukulan
sekalipun dari Eunhye karena kembali mencium paksa dirinya. Ternyata aku salah,
dia tidak bereaksi apa-apa. Bahkan sedetik kemudian dia membalas ciumanku
dengan lembut. Biarlah, ini jauh lebih baik karena energiku dapat mengalir
dengan sempurna kalau dia sedang tidak marah.
Kemudian,
ciuman-ciumanku berikutnya juga tidak ditolak olehnya. Ciuman yang akan
membuatnya sembuh dan juga akan membuatku mati sebagai seorang manusia.
Seminggu
setelah kejadian di dapur waktu itu, aku merasa bahwa nyawaku sudah hampir
habis. Ini pertanda kalau penyakit Eunhye juga hampir sembuh.
Aku merebahkan
tubuh diatas tempat tidur sambil menikmati rasa sakit diseluruh tubuhku. Sakit
yang dulu menyiksa Eunhye itu, kini bersarang di tubuhku. Aku tersenyum bahagia
karena sudah bisa membuat hidup Eunhye tidak akan menderita lagi oleh penyakit
ini.
Kim Heechul a.k.a Kim Heena POV End
Park Eunhye POV.
Hari ini
lagi-lagi Heena Eonni berhasil mengacaukan pikiranku. Terutama tentang ciuman
darinya yang sering membuatku bingung. Entah sudah yang keberapa kalinya aku
membiarkan dia mengecup bibirku tanpa perlawanan dariku, bahkan aku
membalasnya. Apa aku sudah gila? Karena sepertinya aku mulai menyukai Yeoja
itu. Tatapan matanya, ciumannya, perhatiannya, semua tentang dirinya membuatku
hampir gila. Disisi lain aku sadar ini hal yang sangat salah, aku menyalahi
kodratku sebagai seorang Yeoja. Harusnya aku mencintai namja, bukan Yeoja
seperti Heena Eonni itu. Aku sudah berusaha semampuku untuk membuang perasaan
aneh ini, tapi tidak bisa. Semakin besar malah. Sentuhan-sentuhan darinya tak
hanya mengalirkan suatu energi kedalam tubuhku, tapi juga mengalirkan bias-bias
cinta kedalam hatiku. Aku tahu ini berlebihan, namun kenyataanya memang seperti
itu yang aku rasakan setiap kali dia menyentuhku.
Dan pagi ini,
setelah melalui pemikiran yang sangat-sangat rumit, aku memutuskan untuk
mengatakan apa yang aku rasakan selama ini pada Heena Eonni.
Iya, aku akan
menyatakan cintaku padanya. Tak peduli bagaimanapun reaksinya. Entah dia akan
jijik padaku, benci, marah atau apalah reaksi yang akan kudapat darinya, yang
jelas aku harus mengatakannya sebelum penyakit ini menyeretku pada pintu
kematian yang semakin dekat denganku.
Aku
mencari-cari Heena Eonni di seluruh sudut apartemenku karena sejak semalam aku
tidak melihatnya. Pasti dia dikamarnya, gumamku lalu bergegas menuju sebuah
kamar di ujung ruangan.
“ Hee—Eonni
.... Hee—Eonni-ya.....” panggilku dari balik pintu.
Park Eunhye POV End
Kim Heechul a.k.a Kim Heena POV.
Aku membuka
mataku saat mendengar teriakan dari luar kamarku.
“
Hee—Eonni.... Hee-Eonni-ya.”
Itu suara
Eunhye, kenapa dia memanggilku. Ya Tuhan, mungkin dia sedang butuh bantuanku,
karena sejak semalam aku tidak keluar kamar akibat rasa sakit di sekujur
tubuhku ini.
“ Ne Eunhye,
masuklah.. Pintunya tidak terkunci.” Aku berusaha memperjelas suaraku yang agak
parau.
“ Eonni sakit
ya?” Eunhye duduk disebelahku yang sedang terbaring lemah. Aku tidak tahu
sejauh apa penyakit ini menguasai tubuhku, sehingga aku sering merasa
kesakitan.
Aku menggeleng
mendengar pertanyaan Eunhye.
“ Ani
Eunhye-ya.. aku hanya sedikit pusing.” Jawabku yang tentu saja bohong, karena
yang kurasakan saat ini bukan hanya ‘sedikit’ tapi ‘sangat’ pusing.
“ Tapi
Hee—Eonni pucat, apa perlu ku ambilkan obat?”. Tanyanya dengan nada khawatir
dan buru-buru berdiri untuk mengambil obat kalau saja aku tidak menarik
tangannya.
“ Tidak perlu
Eun-sshi, aku baik-baik saja.” Aku bangkit dari posisi berbaringku. Duduk
dengan mantap seakan-akan memberi isyarat pada Eunhye bahwa aku baik-baik saja.
“ Ah, Jinjja?
Kau jangan berbohong Eonni.” Tatapan matanya penuh selidik memandang seluruh
tubuhku.
Aku menjadi
rikuh ditatap seperti ini.” Jangan menatapku seperti ini Eun-sshi.”
Kudorong pipinya dengan lembut.
“ Waeyo? Kau
tidak suka?” ucapnya dengan nada kecewa.
“ Bukan
begitu, tapi... ah sudahlah jangan dipikirkan. Oh iya, kenapa kau datang
kesini? Kau butuh sesuatu?”
Tanyaku
berusaha mengalihkan pembicaraan.
Eunhye
menggeleng. “ Ani, tapi ada sesuatu yang ingin aku katakan pada Eonni.”
Wajahnya sedikit serius. Manik matanya memandang mataku dengan tajam.
“ Mwo?” aku
menghindar dari tatapan matanya dengan memandang keluar jendela disebelah
tempat tidurku.
Eunhye
menaikkan kedua kakinya keatas tempat tidurku lalu memeluk lututnya.
“ Aku tidak
tahu apa aku pantas mengatakan ini atau tidak.” Eunhye terdiam sejenak sambil
terus memandangku.
Aku
membulatkan mataku, apa yang sebenarnya ingin dikatakan gadis manis ini. Kenapa
dia seperti takut mengutarakan maksudnya. Kalau saja aku bisa membaca
pikirannya seperti yang biasa aku lakukan pada orang-orang lainnya, aku pasti
sudah melakukannya dari tadi. Tapi sayang sekali, kekuatanku untuk membaca
pikiran orang lain tidak berfungsi pada jodohku sendiri. Memang, aku bisa
mengetahui segala hal tentang kehidupannya, tapi pikirannya tidak bisa ku
ketahui.
“ Aku
menyukaimu Hee—Eonni.” Ucapnya tiba-tiba dan membuat jantungku seakan berhenti
berdetak saat ini juga. Aku menoleh untuk memastikan apa dia tidak salah
bicara.
“ Aku tahu ini
hal yang memalukan. Tapi aku ingin perasaanku bisa tersampaikan sebelum aku
mati.” Lanjutnya dengan senyuman pahit menghiasi bibir mungilnya itu.
Aku menutup
mata rapat-rapat mendengar gadis yang kucintai mengatakan hal itu padaku,
meskipun aku dalam penampilan seperti ini( Yeoja ).
Padahal aku sudah
bersusah payah menutupi jati diriku yang sebenarnya agar Eunhye tidak sampai
menyukaiku. Suatu kekuatan menuntun tanganku bergerak untuk memeluk Eunhye.
“ Ani
Eun-sshi. Kau tidak salah, ini juga bukan hal yang memalukan.” Ujarku
menenangkan Eunhye yang mulai menangis dipelukanku.
Apa boleh
buat, menyamar menjadi Yeoja sekalipun tidak dapat menipu hati Eunhye untuk
tidak mencintaiku. Dia tetap menyukaiku. Akhirnya aku membuka Wig yang selama
ini aku pakai. Membiarkan rambut hitamku yang sesungguhnya terlihat oleh
Eunhye.
“ Tatap aku
Eunhye-ya” Ucapku dengan suaraku yang sesungguhnya. Tanganku mendongakkan wajah
Eunhye yang sejak tadi berada dalam dekapanku.
Eunhye tampak
begitu terkejut dengan apa yang terjadi. Dia memandang wajahku lekat-lekat.
“ kau siapa..”
dia melepaskan diri dari pelukanku.
Aku tersenyum
lebar. “Naya, Kim Heena.... umm maksudku Kim Heechul” jawabku lembut.
Aku
menjelaskan semua tentang diriku yang sesungguhnya pada Eunhye, tentang misi
yang sedang ku lakukan, juga tentang alasanku berubah menjadi Kim Heena. Bahkan
tentang nyawa yang kuberikan padanya lewat sentuhan dan ciuman selama ini juga
aku ceritakan. Yang tentu saja hal ini membuat Eunhye menangis menjadi jadi.
“ Just love
you my dear, Saranghae Chagiya....” kubisikkan kalimat itu dengan lembut
ditelinganya. Aku memejamkan mata berusaha menghalau airmata yang hendak keluar
dari dalamnya. Aku tidak menduga kalau semuanya akan berakhir seperti ini.
Seharusnya saat ini Eunhye sedang bahagia karena penyakitnya sudah hampir
lenyap. Tanpa perlu menangisi semua takdir ini.
Aku meraih
tubuhnya kedalam pelukanku. Tapi dia mengibaskan tanganku.
“ Tolong,
jangan sentuh aku lagi. Aku tidak ingin kau semakin menderita.” Ucapnya
ditengah sedu sedan tangisnya.
“ Ya
Eunhye-ya, jangan mengatakan hal itu. Aku tidak pernah menderita karena semua
hal itu.” Dia tetap menggeleng dan menjauh dariku.
“ Kau bohong.
Jangan pernah menyentuhku lagi, ku mohon. Aku tidak ingin kehilanganmu.” Dia
terduduk dilantai dan menangis disudut ruangan, kedua tangannya memeluk
lututnya sementara wajahnya dibenamkan dalam rengkuhan lututnya.
Aku tidak
sanggup melihat semua ini, segera saja aku melompat dari tempat tidur dan
menghampirinya. Memeluknya walaupun dia berusaha menolak dengan segenap
tenaganya. Hingga akhirnya dia menyerah dan membiarkan aku memeluk tubuhnya.
“ Kumohon,
biarkan aku memelukmu.” Kurasakan air mataku meleleh dari sudut mata ini. Untuk
beberapa saat lamanya kami berdua larut dalam tangisan masing-masing.
“
Saranghae....” kukecup kening Eunhye dengan perasaan campur aduk. Eunhye hanya
terdiam sambil terisak, dia tak menatapku sedikitpun.
“ Eunhye-ya...
mian kalau aku su...” Ucapanku terhenti karena Eunhye menempelkan telunjuknya
dibibirku.
“ Tidak ada
yang perlu dimaafkan.” Ucapnya kemudian menempelkan keningnya di keningku. “
Saranghae, Chagiya...” lanjutnya dengan tatapan mata tajam.
Aku
mengangguk. “ Na ddo saranghae, Eunhye-sshi.”
Kukecup bibir
mungil Eunhye dengan lembut, entah untuk yang keberapa kalinya, tapi yang jelas
kali ini adalah ciuman terakhirku. Karena seluruh nyawa manusiaku sudah
kuberikan pada Yeoja tersayangku ini dan bisa dipastikan, sebentar lagi aku
akan lenyap dari dunia manusia dan menjadi malaikat seutuhnya.
Kim Heechul a.k.a Kim Heena POV End
Park Eunhye POV
BackSound [Superjunior-Daydream]
Aku membiarkan
Heechul mengunci bibirku dengan ciumannya.
Memeluk
tubuhku dengan sangat erat. Kurasakan bahunya berguncang keras, pasti dia
sedang menangis. Tapi dia tidak melepas ciumannya.
Bahkan semakin
memperdalam ciumannya.
Dia melepas
ciumannya sebentar untuk memberiku kesempatan bernafas. Beberapa detik kemudian
dia kembali menciumku dengan terisak, aku yang masih sangat shock dengan fakta
yang baru saja terungkap hanya bisa diam tanpa melawan ataupun membalas
ciumannya itu. Tapi itu tak berlangsung lama, karena selanjutnya aku membalas
ciuman manis Heechul dengan perasaan yang kacau. Aku tidak ingin dia
meninggalkanku begitu saja, aku sangat mencintainya. Sangaat.....
Aku mempererat
pelukanku, berharap agar Tubuh Heechul tidak akan pernah lenyap dan pergi dari
sisiku. Namun ternyata aku salah, seberapapun kuatnya aku memeluk dia. Dia
tetap menghilang , lenyap dari pandanganku. Seiring dengan tetesan air mataku
dan air matanya yang terus mengalir, tubuh namja itu sedikit demi sedikit
berubah menjadi seberkas cahaya yang menyilaukan sebelum akhirnya hilang dari
ruang pandangku. Sektika aku menangis hebat, memanggil namanya berulang-ulang.
Seakan berharap tubuh itu akan muncul lagi oleh tangisan dan panggilan dariku.
“ Heechul-Sshi...”
teriakku sambil terisak. Tidak Eunhye..dia tidak akan pernah kembali lagi.
Ucapku dalam hati menenangkan diriku sendiri. Dan itu memang benar, Chullie
tidak muncul. Saat ini yang tersisa hanya aku, berkutat dengan kesedihan di
dalam ruangan yang teramat sepi ini. Sesekali isak tangisku memecah keheningan
tempat ini tanpa bisa mengembalikan Namja-ku ke hadapanku lagi.
Entah sudah
berapa lama aku menangis, hingga aku merasa begitu lelah, lelah sekali... aku
menutup mataku yang terasa begitu berat dan tertidur di lantai.
Baru sebentar
aku tertidur, kurasakan hangat cahaya matahari pagi yang menerobos masuk lewat
jendela menyapa kulitku. Aku mengerjap-ngerjapkan mata,berusaha mengumpulkan
segenap kesadaranku yang baru terkumpul setengah. Aku memandang sekelilingku,
ruangan ini masih sama seperti saat aku belum tertidur. Sepi, lengang, bahkan
terasa lebih senyap dari sebelumnya. Aku juga masih terkulai lemas di tempat
terakhirku bersama dengan Heechul, juga masih dengan kesedihan yang teramat
sangat ini.
Air mata, air
mata yang sempat terhenti saat aku tertidur tadi kembali bergegas mengalir
dipipiku. Ya, aku menangis lagi.
Menangisi segala kebodohanku sekaligus kebodohan Heechul yang sudah menyebabkan
semua ini terjadi.
Aku melangkah
menghampiri tempat tidur Heechul, mengambil selimut yang pernah dipakainya lalu
menghirupnya, menghirup aroma tubuh Heechul yang masih menempel disana. Kembali
kepedihan menyesakkan dadaku hingga aku seperti tak dapat menghirup udara
dengan bebas.
“
Heechul-sshi.... Apa kau masih mengingatku saat ini.?” Tanyaku seperti orang
bodoh. Tidak mungkin dia mendengar ucapanku sekarang.
“ Masih
Eunhye... Aku masih mengingatmu.” Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang
mengagetkanku.
“
heechul-sshi...? aku menoleh kearah datangnya suara itu, dan benar saja Heechul
sudah berdiri dibelakangku. “Ya.. Tuhan, apa aku sudah mulai gila sekarang.”
Kupukul kepalaku berulang kali, berharap halusinasiku akan segera hilang.
“ Hilang...
Ayo cepat hilang..” aku masih memukuli kepalaku sambil mengerjapkan mata
berulang-ulang.
“ Apa yang kau
lakukan Eunhye-ya.?” Heechul menarik tanganku agar tidak memukuli kepalaku
sendiri. “Ini... . Ini bukan halusinasi?” tanyaku bingung karena aku dapat
merasakan sentuhan dari Heechul.
“ Ani, ini
bukan halusinasi. Aku benar-benar ada Chagiya..” dia memeluk tubuhku dengan
erat.
“
Heechul-ya..” panggilku setelah menyadari bahwa namja yang memelukku ini nyata.
“ Kau bilang kau akan menjadi malaikat dan tidak akan pernah datang padaku
lagi.” Aku memukul tubuh Heechul dengan manja.
“ Ne, itu
benar. Tapi ternyata, aku diberi kesempatan untuk memilih. Antara menjadi
malaikat seutuhnya atau menjadi manusia seutuhnya.” Jawabnya dengan nada
gembira.
“ Jadi, kau
tidak akan pernah lagi meninggalkanku.?” Tanyaku memastikan hal yang sudah
pasti.
“ Tidak akan
pernah lagi.” Heechul mempererat dekapannya dan mencium lembut keningku.
©©©©©~~~ END~~~©©©©©